Senin, 21 Oktober 2019

Apakah bunuh diri (suicide) berkaitan dengan kurang iman?

Ini cuma mini riset ala gue ya, kalian bisa setuju atau nggak sama riset gue ini.

Banyak yang bilang kalo orang bunuh diri itu pasti berkaitan/ sering dikatain 'kurang iman'.
Kok bisa sih?
Menurut gue pribadi, kalo makna iman 'dikhususkan' dalam lingkup keagamaan, kayaknya kok kurang relate ya.

Jadi gue berusaha memperluas makna iman itu sendiri, supaya bisa relate sama bunuh diri.

Jadi, gue ambil makna iman secara bahasa, umum, yang artinya percaya.
Manusia itu makhluk lemah, manusia butuh something to depends on (sifat ini sudah ada secara naluriah). Sesuatu itu harus
 lebih kuat, lebih hebat, lebih besar sehingga bisa diandalkan ketika ada masalah yang datang, entah itu yang kita percayai sebagai Tuhan/God,
jadi manusia ini tidak merasa sendiri dan bisa dengan mudah mengatakan, "hi Problem,  I have God to face you!"
Keadaan ini bisa membuat manusia menjadi lebih kuat secara mental, dan bisa hidup lebih lama.

Kenapa sesuatu/ tempat bergantung itu bukan manusia lainnya? Kan kita punya teman, sahabat, keluarga, tetangga, dll ?
I can say, TAK BISA. Kenapa?

1. Mereka (manusia lain) punya masalah mereka sendiri,

2. Belum tentu manusia lain itu mau membantu masalah kita karna mereka punya masalah sendiri itu tadi yang cukup membuat mereka pusing sehingga tidak mau repot-repot mengurus masalah kita.

3. It proves manusia (secara umum) itu lemah dan terbatas, sehingga tak bisa dijadikan tempat untuk bergantung

Maka dari itu kita membutuhkan sesuatu yang lain selain manusia. Dan itu adalah yang dipercaya manusia sebagai Tuhan, dewa, Buddha, Allah, Yesus, dll.

Tapi yang gue tau, di Islam, which is Tuhannya disebut Allah terdapat penjelasan kenapa kita harus bertahan menghadapi masalah yang ada dan juga ada larangan untuk bunuh diri, dan penjelasan ini logic, sehingga bisa membantu manusia untuk tidak melakukan bunuh diri dan hidup lebih lama lagi.

(Mungkin teman-teman dari penganut agama lain bisa share tentang ini di kolom komentar, berhubung gue gatau)


Kesimpulan hubungannya:
Manusia punya masalah - merasa no one can help - nothing to depends on - feeling lonely - hidup terlalu berat untuk dijalani sendiri - suicide..

Ketika manusia 'kurang iman' bisa diartikan dia 'tidak percaya' akan adanya sesuatu (Tuhan) yang lebih hebat, lebih kuat, lebih besar yang bisa membantunya untuk melewati masalah. Hal ini menyebabkan manusia merasa sendiri dan tidak berarti, tak punya harapan pada kehidupan ini, sehingga mendorongnya untuk melakukan bunuh diri.

Beda dengan manusia yang percaya bahwa ada Tuhan dengan segala kehebatanNya yang akan membantunya menghadapi masalah ini sehingga ia tidak merasa sendiri, masih punya harapan 'hidup akan lebih baik lagi', jadi bisa bertahan melewati masalahnya dan tidak melakukan bunuh diri.

At least, apapun yang telah terjadi gak akan bisa diulang. Manusia yang telah mati tak bisa dihidupkan kembali, maka dari itu berpikir ulanglah sebelum melakukan sesuatu yang menyangkut nyawa.

Stay strong!

Rabu, 11 September 2019

Pelajaran? Wkwkwk

Bagi gue, mungkin hidup lo lebih baik, lebih enak, lebih nyaman.
Tapi mungkin bagi lo, hidup gue justru yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih enak.

Yha padahal belum tentu.

Jadi belakangan gue bingung kan yak mau ngapain, akhirnya balik lagi ke kebiasaan lama gue yang dulu sering gue lakuin pas SMP-SMA.
ngapain?

Baca wattpad. Haha
Ga nyangka bisa balik baca lagi
Padahal waktu kuliah aja rasanya malas banget baca begituan.

Ya gimana lagi namanya ga ada kerjaan kan yak. Wkwkwk

Oke jadi gue baca wattpad sejak beberapa minggu minggu lalu. Well, berbagai macam cerita sih, but semua bacaan gue almost bergenre romance.
Iya. Cinta-cintaan. Padahal gue dulu waktu sekolah ogah banget kan yak baca yang romantis-romantis gitu.
Geli.
Sekarang gue kena karmanya kali ya wkwk

Jadi yaudah gue baca tuh macam-macam cerita, tapi lagi-lagi gue ngeh satu hal, gue nyari cerita genre romance yang temanya marriage life dong.

Yha gue aja kaget kenapa gue nyari bacaan yang begituan..
Mungkin efek umur kali ya, dan efek jomblo hahaha

Yaudah baca-bacain deh tu.
Sampe saat ini udah lumayan banyak gue baca, dan gue kilas balik, value apa aja sih yang bisa gue dapet dari sekian banyak cerita yang gue baca?
Masa baca doang ga dapat value?
Wah bahaya ini sih, sia-sia rasanya ngabisin waktu buat baca tapi gak ada ngambil value.

Hm.. tapi gue pikir-pikir, ada beberapa sih value yang bisa gue ambil. Gue list ya, siapa tau kalian mau noted buat diri sendiri juga wkwk. Jadi:

1. Ketika kamu punya masalah, you have to stay calm. Tenangin diri dulu dan lepas masalahnya. Kemudian tempatkan diri sebagai orang lain untuk memandang masalah tersebut secara objektif. Supaya gampang aja sih nyari solusi, soalnya abis merenung gue ngeh, kalo ternyata nyari solusi dengan menempatkan diri sebagai yang terlibat dalam masalah tsb ga akan mudah. Ga percaya? Coba deh inget-inget, pernah gak dengerin temen curhat, terus kalian gampang banget ngasih nasihat/ saran. Tapi pas diri sendiri ngadepin masalah serupa pusing 7 keliling wkwk. Jadi ya gitu, pandanglah masalah secara objektif biar cepet dapet solusinya.

2. Setiap orang punya masalah dalam hidupnya. Jangan banding-bandingin masalah lo sama orang lain, karena pasti masing-masing menganggap masalah yang dia hadapi adalah yang paling berat. Ya namanya orang lagi kena masalah. Gimana? Wkwk. Jangan sok nge-judge juga, karena pengalaman bermasalah dan kondisi orang beda-beda. Meski masalahnya serupa, belum tentu bisa ditangani dengan cara yang sama. Jadi fokus selesein masalah sendiri aja daripada nyinyirin masalah orang lain. Bijak dalam bersikap, dan respect each other.

3. Ini sih yang paling penting. Kunci hidup, yaitu syukur dan sabar. Ga munafik sih yang dua ini gampang banget ngomongnya tapi prakteknya susah. Dikit-dikit ngeluh. Ya buyar kalo gitu. Masalah itu butuh dihadapi dengan kepala dingin dan ketenangan. Bukan diburu-buru.

4. Menikah itu ribet wkwkwk udah lah intinya gitu. Kalau mau nikah, kudu siap secara fisik dan mental. Ya lo gatau aja kehidupan pernikahan ga cuma tentang sunah rosul. Otak lo duh wkwkwk. Sok banget lah gue ngomong kek yang udah nikah aja padahal jombs gini wkwk. Intinya belajar dulu mateng-mateng tentang tetek-bengek pernikahan, setelah tau faktanya kayak gimana, tanya dah tu ke diri sendiri udah siap fisik mental belum buat nikah?


Itu aja dah kayaknya. Uneg-uneg kali ini yang pengen gue curahkan. Makasi udah mau baca kegajean bacotan gue wkwk. Stay calm!

Rabu, 04 September 2019

Tentang Stress dan Kekhawatiran dalam Hidup

Seorang guru berdiri di depan kelas sambil memegang sebuah gelas yang berisi air penuh. Lalu sang guru pun bertanya,

"Ada yang bisa menebak berapa berat air di dalam gelas ini?"

Satu per satu muridnya mulai bersuara,

"150 ml?" Sang guru menoleh pada siswanya yang lain,

"200 ml?" Sang guru kembali menoleh kepada yang lain,

"250 ml?" Sang guru masih menggeleng,

"300 ml?" Sang guru masih dengan gelengan kepalanya, lalu ia mulai bersuara,

"Sebenarnya titik masalahnya tidak pada berat air dalam gelas ini. Tetapi pada berapa lama saya memegangnya. Jika saya memegangnya hanya 1 menit, maka tidak akan terasa berat. Tetapi jika saya memegangnya selama 1 jam, maka lengan saya akan mulai sakit.  Dan apabila saya memegangnya seharian penuh, maka lengan saya akan mati rasa dan lumpuh, sementara berat dari gelas ini tidak berubah," Sang guru memberi jeda dan siswanya pun tersenyum karena hal itu. Ia pun melanjutkan,

"Stres dan kekhawatiran yang ada pada hidup sama seperti air di dalam gelas ini, jika kalian hanya memikirkannya sebentar maka itu tidak ada masalah. Apabila kalian mulai memikirkannya sedikit lebih lama maka itu akan mulai terasa menyakitkan. Dan jika kalian memikirkannya hingga seharian, maka kalian akan merasa lumpuh untuk melakukan apapun." Sang guru tersenyum, lalu,

"Yang harus kalian ingat adalah jangan lupa untuk menaruh gelasnya."



Disclaimer:
(tulisan ini menceritakan kembali video yang saya tonton, saya lupa sumbernya. Yang jelas, video tersebut dalam bahasa inggris jadi cerita ini adalah hasil remake saya ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan).

Minggu, 01 September 2019

Apa dan Siapa

Antara Apa dan Siapa
Seringkali orang salah dalam menempatkan Apa dan Siapa

Terkadang, orang lebih sering melihat Apa daripada Siapa
Namun seringnya orang melihat Siapa dibanding melihat Apa

Dalam hal ini kita harus bijak agar dapat menempatkan Apa dan Siapa secara tepat
Agar dapat memprioritaskan apakah harus Apa atau Siapa yang lebih dulu

Karena kesalahan dalam menempatkan prioritas  dalam menaruh perhatian atau pemaknaan terhadap Apa dan Siapa dapat berakibat fatal

Akan ada saat dimana kita harus mendahulukan memperhatikan Apa
Namun ada juga saat dimana kita perlu untuk memperhatikan Siapa

Kita hanya perlu belajar bijak dalam menempatkan keduanya.

Minggu, 18 Agustus 2019

Entah. Bingung aja 😂

Pernah ada di masa lo bingung sama apa yang bakal lo lakuin besok setelah bangun pagi?

Nah saat nulis ini, gue lagi bingung.
Selain melakukan rutinitas pagi yang biasa gue lakuin kalo di rumah, gue bingung mau ngapain lagi.

Padahal rutinitas rumah aja udah cukup ngabisin waktu dan tenaga. Tapi sayangnya fikiran gue juga butuh untuk 'dikeluarkan'.

Gue pengen kerja. Jelas iyalah.
Tapi gue maunya kerja yang sesuai sama passion/ kesukaan gue. Jadi ketika gue kerja nanti, gue bisa menjalaninya dengan senang hati, meskipun dapat dipastikan setiap pekerjaan pasti akan ada momen gaenak dan beban, tapi karena gue suka gue yakin gue akan bisa melalui kesulitan yang mungkin akan gue hadapi.

Tapi masalahnya sampe sekarang gue gatau, kerjaan yang gue mau itu jenisnya seperti apa, atau kalau dah ketemu, sistemnya yang bikin gue ga sreg.
Mau bangun usaha sendiri juga belum punya modal.

Apa orang lain selain gue mengalami kebingungan yang sama (setelah lulus kuliah) ?
Please, kasitau kalo gue gak sendiri, wkwk.

Beberapa saat yang lalu, gue dengan yakinnya udah menemukan tujuan hidup gue. Sekarang disaat yang bersamaan, gue mempertanyakan, apakah tujuan hidup yang gue tentukan di beberapa waktu yang lalu itu cukup untuk memotivasi agar tetap menjalani kehidupan dengan semangat yang sama saat pertama kali menemukan tujuan hidup?

Gatau deh. Bingung asli. Gue jadi penasaran, apa mereka yang udah hidup lebih lama dari gue, benar-benar hidup dengan tujuan, atau sekedar menjalankan rutinitas yang gak sengaja menjadi biasa karena gak tau lagi harus ngapain?

Yang jelas, besok masih ada rutinitas yang harus dikerjakan sebelum kembali bergalau ria tentang 'apa yang harus dilakukan dalam hidup ini' wkwkwk


Dah. Bye